Perempuan Jaman Now Malas Menikah, Mungkin Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi wanita karier atau bekerja. shutterstock.com

    Ilustrasi wanita karier atau bekerja. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Usia sudah matang, karier mapan, hubungan dengan sang kekasih pun sudah merasa nyaman. Namun si dia tak kunjung menunjukkan keseriusannya untuk menikah. Adakah yang salah?

    Menurut psikolog sekaligus dosen dari The Chicago School of Professional Psychology di Amerika Serikat, Jeremy Nicholson, M.S.W., Ph.D, era modern telah membawa perubahan pandangan sosial yang mempengaruhi seseorang, termasuk dalam hal pernikahan.

    “Orang yang enggan atau menunda untuk berkomitmen biasanya laki-laki. Ini karena mereka merasa harus menanggung beban ekonomi ketika pernikahan terjadi sehingga mereka harus mapan terlebih dahulu. Para lelaki pun merasa bahwa ancaman seperti ketidakcocokan, bahkan perceraian di era modern lebih tinggi sehingga motivasi untuk berkomitmen menjadi lebih rendah,” jelas Jeremy.

    Tak hanya kaum Adam, kaum Hawa kini banyak yang memutuskan untuk lebih hati-hati untuk menjalani komitmen yang serius. Jeremy menyebut emansipasi wanita telah mampu mengurangi ketergantungan wanita terhadap pasangannya.

    "Perempuan modern lebih mandiri dalam hal ekonomi dan kehidupan sosial. Inilah mengapa mereka kurang termotivasi untuk menjalani komitmen dan menikah. Selain itu, individu (pria atau wanita) yang memiliki ambisi tinggi untuk mencapai sesuatu juga akan kurang peduli soal komitmen romantis karena energi mereka terfokus pada ambisi tersebut,” tambah Jeremy. 

    AURA

    Baca juga:
    Bingung Terus Ditanya Kapan Nikah, Jawab dengan Trik Ini
    Menikah dengan Pria Seusia Ayah, Ini Masalah yang Bisa Muncul
    Nia Ramadhani Menikah di Usia 19 Tahun, Simak Untung Ruginya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.