Demam Tidak Selalu Diatasi dengan Antibiotik, Simak Saran Ahli

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak demam. webmd.com

    Ilustrasi anak demam. webmd.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ahli kesehatan mengingatkan agar menggunakan antibiotik sesuai dengan indikasi penyakit yang diderita. Hal tersebut penting untuk mencegah terjadinya resistensi atau kekebalan bakteri terhadap obat dan ini berbahaya bagi tubuh.

    "(Penyakit) yang memerlukan antibiotik hanya yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Virus tidak bisa diatasi dengan antibiotik. Hanya infeksi bakteri," ujar Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) dr Hari Paraton, SpOG(K) dalam Simposium Nasional Upaya Peningkatan Kesadaran Pencegahan Penyakit dan Penggunaan Antimikroba yang Baik dan Benar di Jakarta, Selasa, 27 Februari 2018.

    Baca juga: Sebab Obat Antibiotik Harus Dihabiskan

    Lebih lanjut, Hari mengatakan penanganan infeksi bakteri sebenarnya tidak seluruhnya memerlukan antibiotik, karena ada beberapa infeksi bakteri yang bisa sembuh dengan sendirinya. Para klinisi harus bisa membedakan infeksi bakteri yang memerlukan antibiotik dan yang tidak. "Infeksi bakteri saja tidak selamanya menggunakan antibiotik. Ada yang sembuh sendiri, sehingga tidak memerlukan antibiotik," ucapnya.

    Menurut Hari, para klinisi kerap meresepkan antibiotik kepada pasien bila menemukan indikasi panas. Mereka menganggap panas sebagai infeksi. Padahal panas bisa saja bukan manisfestasi infeksi.

    Baca juga: Ayo Manfaatkan Nanas sebagai Antibiotik

    "Para klinisi kalau ada indikasi panas dianggap infeksi, karena dulu ajarannya diberikan antibiotik. Panas manifestasi sebagian karena infeksi dan sebagian lain tidak. Harus dibedakan infeksi itu karena virus atau bakteri. Hanya infeksi bakteri yang menggunakan antibiotik," ujar Hari.

    Adapun penyakit semacam flu, diare, dan radang tenggorokan bisa sembuh tanpa antibiotik. "Manusia dibekali self healing. Sebagian bisa sembuh tanpa antibiotik, seperti batuk pilek, radang tenggorokan, diare, dan demam berdarah. Radang itu bukan infeksi, hanya inflamasi," tutur Hari.

    Baca juga: Bahaya Resistensi Bakteri karena Sering Minum Antibiotik

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.