Waspadai Kebutaan pada Bayi dan Penyebabnya. Ini Kata Dokter

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bayi prematur dalam inkubator. shutterstock.com

    Ilustrasi bayi prematur dalam inkubator. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Orang tua perlu bertindak cermat mengamati kondisi mata anak saat baru dilahirkan, terutama yang mengalami masalah saat persalinan. Dr. Ni Retno Setyoningrum, SpM(K), Ketua Layanan Children Eye & Squint Clinic JEC @ Kedoya mengatakan pengamatan tersebut diarahkan kepada kondisi retina mata anak.

    "Retina adalah organ yang sangat vital dari seluruh jaringan di dalam rongga mata yang berfungsi untuk menangkap rangsangan cahaya dan mengirimkan rangsangan ke otak sehingga dapat melihat suatu obyek," ujar Retno.

    Menurutnya, retina memerlukan aliran darah dan pada kondisi normal aliran itu dimulai pada usia kehamilan 16 minggu dan terbentuk secara sempurna pada umur kehamilan sampai dengan 42 minggu.

    Pertumbuhan pembuluh darah bayi yang lahir prematur belum sempurna dan akibat terpajan oksigen tinggi, pertumbuhan pembuluh darah akan terhenti dan dapat terjadi kelainan jaringan berupa timbulnya pembuluh darah retina baru yang tidak normal (neovaskularisasi).

    Neovaskular ini dapat menimbulkan komplikasi berupa perdarahan ke dalam rongga mata (vitreus) atau tarikan pada retina hingga terlepas (retinal detachment).

    "Kondisi ini disebut sebagai Retinopathy of Prematury (ROP) yang berpotensi menyebabkan kebutaan permanen pada bayi," jelas Retno.

    Artikel lain:
    Selain Kurang Tidur, 8 Kebiasaan Ini Sebabkan Mata Panda
    12 Penyebab Mata Bengkak, Bukan Cuma Kurang Tidur dan Menangis
    Tips Mengatasi Mata Bengkak dengan 4 Bahan dari Dapur

    Pada umumnya, ROP menyerang bayi prematu yang lahir dari usia kehamilan kurang dari 32 minggu dan berat badan lahir rendah atau kurang dari 1.500 gram. Bisa juga lahir pada usia kehamilan ibu lebih dari 32 minggu atau berat badan 1.500-2.000 gram atau dengan kondisi klinis yang dianggap berisiko tinggi (kelainan jantung, paru, kelainan darah, dan lainnya).

    Bayi yang lahir dengan faktor risiko seperti terapi oksigen, hiposekmia (rendahnya kadar oksigen dalam darah) dan penyakit penyerta lain seperti sepsis dan pendarahan otak.

    "Bayi prematur dengan ROP berpeluang mengalami kelainan mata seperti minus tinggi, juling (strabismus), mata malas, katarak, glaukoma dan retinal detachment," papar Retno.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.