Mengenali Dampak Buruk Teknik Interogasi Orang Tua pada Anak

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. brandmannews.org

    Ilustrasi anak laki-laki bercerita pada ibunya. brandmannews.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketika ingin menggali informasi dari anak, orang tua sering kali menggunakan teknik interogasi dengan harapan anak akan berkata jujur. Sebaliknya, justru anak cenderung berbohong ketika diinterogasi. Hal ini diungkapkan penggiat pendidikan, Najelaa Shihab.

    "Coba kalau kita diinterogasi, rasanya ingin kabur dan berharap pertanyaannya cepat berhenti. Kita enggak peduli bohong atau apa," kata Najelaa.

    Tidak hanya bohong sekali, anak akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya kala diberondong pertanyaan oleh orang tua.

    "Bohong pertama kali karena diri sendiri, tapi bohong kedua-ketiga kali karena orang tuanya," tuturnya.

    Teknik interogasi juga menandakan orang tua tidak percaya kepada anak. Padahal setiap komunikasi orang tua-anak harus dilandasi rasa percaya. Lantas, bagaimana cara memancing anak untuk bercerita kepada orang tua tanpa perlu terus-menerus melontarkan pertanyaan kepada anak?

    "Cukup komunikasi berdasarkan pengamatan saja. Misalnya, bekal anak masih banyak. Orang tua bisa bilang, makanannya masih banyak. Nanti anak akan cerita dengan sendirinya," ucap Najelaa.

    TABLOID BINTANG

    Baca juga:
    Kiat Melindungi Anak Saat Gempa Bumi
    Cegah Stunting, Kuncinya di 1000 Hari Pertama Kehidupan
    Fase Posesif pada Anak, Begini Menghadapinya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Lockdown Merupakan Kewenangan Pemerintah Pusat

    Presiden Joko Widodo menegaskan kebijakan lockdown merupakan wewenang pusat. Lockdown adalah salah satu jenis karantina dalam Undang-undang.