Manfaat Susu Sebagai Penstabil Berat Badan

Reporter:
Editor:

Yunia Pratiwi

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi minum susu. Shutterstock

    Ilustrasi minum susu. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Kita kerap mendengar susu dapat menambah berat badan. Ada pula yang menyebut susu sebagai penyebab anak-anak mengalami obesitas. Ahli gizi sekaligus dosen Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II, DR. Marudut, MPS menjelaskan, penyebab kegemukan adalah asupan makanan yang terlalu banyak bukan karena susu.

    Hal itu diungkap Marudut dalam talk show “Frisian Flag: Fakta Ilmiah Kebaikan Susu dan Berbagai Manfaatnya” di Jakarta. "Saat Anda mengonsumsi gorengan misalnya, biasanya tidak hanya satu. Kalau gorengan itu kita tekan atau peras, minyaknya banyak. Itu adalah lemak. Itu yang menyebabkan gemuk," ungkap Marudut, belum lama ini.

    Baca juga:
    Cokelat Swiss atau Belgia, Mana yang Cocok Buat Orang Indonesia?
    Susu Bukan Cuma buat Anak Kecil, Orang Dewasa Juga Perlu
    Tak Perlu Takut Alergi Susu Sapi, Ada Banyak Susu Pengganti

    Lebih lanjut, Marudut menambahkan minum justru dapat menurunkan obesitas. "Minum susu dapat menurunkan obesitas. Coba perhatikan lebih dalam, karena susu lambat dicerna, ia memberi efek kenyang lebih lama. Susu dapat membantu menstabilkan berat badan pada orang dewasa loh," ujarnya.

    Selain itu, mengonsumsi susu cair juga dapat mencegah penyakit cardiovaskular, dengan membantu memperlancar peredaran darah pada tubuh. Susu, kata Marudut, dapat mengisi kepadatan tulang. Kalsium dalam susu sangat penting dikonsumsi untuk menjaga metabolisme tubuh.

    "Setiap orang membutuhkan kalsium hingga 30 tahun. Ini penting buat semua orang. Jika tidak dipenuhi kebutuhan kalsium pada tubuh, maka tulang akan mudah keropos. Pada dasarnya, setiap orang dengan usia yang berbeda memiliki kebutuhan susu yang berbeda-beda," ujarnya. 

    TABLOIDBINTANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.