Sabtu, 17 November 2018

Takut pada Pasangan, Tanda Hubungan Tidak Sehat

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasangan posesif/psikopat. Shutterstock

    Ilustrasi pasangan posesif/psikopat. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus pembunuhan dokter Letty oleh suaminya sendiri beberapa waktu lalu mengingatkan kita akan bahaya pasangan yang abusif. Nomine film terbaik di Festival Film Indonesia 2017, Posesif, juga punya pesan yang sama. Keduanya menyadarkan kita bahwa kekerasan dalam sebuah hubungan tidak sehat bisa terjadi pada siapa saja.

    Lantas bagaimana cara memastikan apakah Anda berada dalam hubungan yang abusif? Yang pertama, saran psikolog keluarga dari Pulih@thePeak, Livia Iskandar, cobalah bertanya pada diri sendiri, apakah Anda merasa takut dengan pasangan mengingat rasa takut umumnya menjurus pada hubungan tidak sehat.

    Lanjutkan dengan pertanyaan bagaimana Anda dan pasangan menyelesaikan argumen? Kedua pertanyaan itu menurut Livia dapat memberi sedikit gambaran tentang hubungan yang dijalani. Kepastian ini diperlukan karena sering kali korban kekerasan tidak sadar hak-haknya telah dilanggar, terutama kekerasan psikologis.

    “Sering kita tidak menyadari diri kita direndahkan, diremehkan, tidak dipedulikan, hingga semakin lama kita semakin tidak percaya diri dan susah bangkit,” ucapnya. 

    Tindakan abusif tidak terbatas pada kekerasan fisik, seksual, dan psikologis namun mencakup kekerasan ekonomi.

    “Hubungan abusif itu menggunakan power and control sebagai basisnya. Mereka ingin superior dibanding pasangannya dan bisa mengendalikan pasangan," tambah salah seorang pendiri Rumah Indonesia ini.

    Tak jarang sifat posesif yang berpotensi berujung pada tindakan abusif dianggap sebagai tanda sayang. Menurut Livia, sifat posesif justru salah satu pertanda hubungan menuju ke arah yang tidak sehat.

    “Posesif yang ingin menguasai dan mengendalikan pasangan yang tidak boleh. Namun kalau dalam batasan yang dianggap nyaman oleh pasangan, ya tidak masalah,” papar Livia. 

    Sebab lain adalah adanya penyangkalan. Livia mengingatkan rasa takut bukan sesuatu yang wajar.

    “Di saat menikah wanita kerap dianggap hak milik dan harus bisa melayani suami. Padahal semua orang terlahir dengan hak asasi dan bebas hidup tanpa rasa takut,” lanjutnya.

    Jika menyadari pasangan bersifat abusif, Livia menganjurkan mencari bantuan pada orang terdekat.

    TABLOIDBINTANG

    Artikel lain:
    4 Alasan Perempuan Tak Ingin Menikah
    4 Cara Menggaet Cinta Pria Idaman
    4 Tipe Pria Dambaan Wanita Menurut Ilmuwan, Bukan Sekedar Berotot


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.