Kamis, 20 September 2018

Mitos dan Fakta tentang Kanker Payudara, Awas Terkecoh

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sorang pasien diperiksa payudarahnya menggynakan alat ultrasound saat pemeriksaan kanker di Paoli-Calmette institute, 9 Oktober 2017. Mammogram dianjurkan untuk wanita muda yang memiliki gejala kanker payudara.  AFP PHOTO / ANNE-CHRISTINE POUJOULAT

    Sorang pasien diperiksa payudarahnya menggynakan alat ultrasound saat pemeriksaan kanker di Paoli-Calmette institute, 9 Oktober 2017. Mammogram dianjurkan untuk wanita muda yang memiliki gejala kanker payudara. AFP PHOTO / ANNE-CHRISTINE POUJOULAT

    TEMPO.CO, Jakarta - Sampai sekarang, dokter dan para ahli masih belum mengetahui penyebab jelas kanker payudara. Karena itu, kanker payudara lebih sulit untuk dihindari dan menyebabkan penyebaran berbagai informasi yang tidak akurat mengenai kanker payudara.

    Berbagai macam informasi yang sebenarnya hanya mitos juga dapat menimbulkan persepsi yang salah mengenai kanker payudara. Pendiri Love Pink dan penyintas kanker payudara, Madelina Mutia, menjelaskan beberapa informasi yang tersebar di masyarakat yang sebenarnya hanya mitos atau informasi yang salah.

    “Seperti menggunakan bra pada saat tidur, atau menggunakan deodoran, itu sebenarnya mitos,” ujar Mutia. Baca: Madelina Mutia, Berjuang Melawan Kanker Payudara demi Sesama

    Kedua mitos ini sebenarnya tidak terlalu berbahaya namun tentunya akan lebih baik bila masyarakat mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. Selain itu, ada juga informasi tidak akurat yang tersebar di masyarakat yang dapat membahayakan.

    “Banyak penderita kanker payudara yang berpikir kalau kemoterapi itu membunuh. Sebenarnya tidak seperti itu,” ungkap perempuan berusia 49 tahun ini.

    Mutia menjelaskan kalau sebenarnya hal tersebut disebabkan karena informasi yang tidak akurat lainnya. Banyak yang mengira kalau pasien kanker payudara harus diet yang ketat, padahal sebenarnya mereka membutuhkan energi yang cukup. Baca juga: Penjelasan Pakar soal Latihan Khusus Penyintas Kanker Payudara

    Mutia menganjurkan bila seseorang akan melakukan kemoterapi, jangan diet karena nanti tidak akan memiliki energi. Pemikiran tersebut dapat menyebabkan kematian pada saat kemoterapi dan meningkatkan mitos mengenai pengobatan ini. Sebagai seseorang yang melewati kemoterapi sebagai pengobatannya, Mutia merasa kalau persepsi ini bisa berbahaya.

    “Selain itu, biasanya untuk cek kalau kita memiliki kanker atau tidak itu melalui biopsi. Namun banyak yang berpikir kalau biopsi itu dapat menyebarkan kanker,” lanjut Mutia. Jangan lewatkan: Memahami 4 Tahap Perjalanan Kanker Payudara

    Dia menjelaskan lagi kalau sebenarnya persepsi itu salah. Kanker menyebar setelah melakukan biopsi bila pasien tidak mengambil payudara yang terkena kanker. Bila tidak mengambil payudara, kanker masih bisa menyebar. Hal tersebut membuat banyak pasien kanker payudara yang takut untuk melakukan biopsi, yang sebenarnya sebuah proses penting untuk mengetahui kanker di payudara pasien.

    Karena mitos-mitos ini bisa membahayakan, organisasi Love Pink terus memberi edukasi kepada masyarakat. Banyak yang tidak mengetahui bahwa informasi yang sering disebar itu sebenarnya mitos. Informasi yang akurat harus diberikan kepada seluruh masyarakat Indonesia, untuk menghindari persepsi yang tidak akurat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.