Stimulasi yang Tepat, Kunci Pertumbuhan Bayi Prematur

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Belum matangnya fungsi-fungsi organ bayi, menjadi salah satu sebab bayi prematur gampang bermasalah. Apalagi?

    Belum matangnya fungsi-fungsi organ bayi, menjadi salah satu sebab bayi prematur gampang bermasalah. Apalagi?

    TEMPO.CO, Jakarta - Bayi yang lahir kurang dari 37 minggu usia kehamilan disebut bayi prematur. Bayi ini membutuhkan perawatan yang optimal agar tumbuh kembangnya berjalan dengan baik. Setelah lahir, bayi prematur ditempatkan dalam inkubator untuk menjaga kehangatan dan kelembapan tubuhnya.

    Selain suhu di dalam inkubator, hal yang yang perlu diperhatikan adalah kenyaman bayi. “Tidak perlu meniru sedemikian rupa kondisi di dalam rahim ibu. Yang paling baik tidak banyak mengintervensi bayi pindah kanan kiri,” ujar dokter spesialis anak Rinawati Rohsiswatmo dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa, 14 November 2017.

    Semakin sedikit intevensi pada bayi membuat dia merasa senang sehingga menggunakan waktunya untuk istirahat dan bertumbuh. Jika bayi kecil ini marah bisa menyebabkan napasnya terhenti dan inum ASI menjadi tidak tercerna. Di kemudian hari bayi yang tidak nyaman ini dapat tumbuh menjadi anak ekstrovert dan introvert.

    “Bayi kecil bagaikan kertas putih, saat merasa tidak nyaman terekam menjadi pengalaman yang buruk,” tambah dokter yang akrab disapa Rina itu.

    Saat mendapat pengalaman yang menyakitkan, ia seolah-olah dikelilingi orang jahat kemudian menjadi introvert atau menjadi ektrovert. Dokter Rina mengingatkan baik anak yang lahir prematur maupun yang lahir cukup bulan sebaiknya mendapat limpahan kasih sayang dan stimulasi dari kedua orang tuanya. Dengan begitu bayi prematur juga dapat tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.

    Baca juga:
    Bingung Cari Sepatu buat Bayi, Simak Dulu Apa Kata Pakar
    Ingin Bepergian dengan Bayi, Perhatikan Dulu 10 Hal Berikut
    Anak Usia Dini Sering Dehidrasi, Waspadai Pertumbuhan Otaknya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 283 Jenazah Dikuburkan dengan SOP Covid-19 di DKI Jakarta

    Anies Baswedan menyebut Dinas Kehutanan dan Pertamanan telah mengubur 283 jenazah dengan SOP Covid-19. Jumlah penguburan melonjak pada Maret 2020.