Dosis Minum Kopi yang Aman Buat Lambung

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi minum kopi. Shutterstock

    Ilustrasi minum kopi. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Mulai dari yang digiling hingga yang digunting, mengkonsumsi kopi menjadi sebuah tren gaya hidup oleh berbagai kalangan. Menjamurnya kedai kopi di Indonesia juga meningkatkan konsumsi kopi masyarakat. “Jumlah konsumsi kopi pada tahun 2016 naik sebesar 174 persen dari tahun 2000,” kata Kevindra Soemantri, pemerhati kuliner dan gaya hidup di Jakarta Selatan.

    Baca:
    Kapan Sebaiknya Minum Kopi Hitam?
    12 Cara Sederhana Atasi Masalah Lambung

    Kopi dan Cokelat Harus Dihindari Penderita Maag, Apa Lagi?

    Kevin mengatakan selain dapat meningkatkan mood, konsumsi kopi oleh kaum urban ibu kota juga telah menjadi sebuah ajang unjuk eksistensi di sosial media. Namun yang tidak disadari adalah potensi efek kafein pada kopi. Jika dikonsumsi secara berlebih akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan.

    Dampak buruk dari konsumsi kafein yang berlebih juga disampaikan oleh Annisa Maloveny, dokter spesialis penyakit dalam, “Naiknya asam lambung adalah salah satu keluhan yang harus diwaspadai para penikmat kopi,” ucapnya. Konsumsi kafein melebihi dosisi normal, yakni maksimal 400 miligram dapat memicu naiknya asam lambung yang dapat mengikis dinding lambung.

    Jika terlalu sering terjadi dan tidak dilakukan penanggulangan, bahaya asam lambung dapat merembet pada kesehatan organ tubuh lainnya. Dampaknya bisa mulai dari rasa perih dan panas di ulu hati, nyeri pada dada, pendarahan, penyempitan atau penyumbatan kerongkongan, barret esofagus – atau rusaknya dinding kerongkongan akibat tingginya asam yang naik. Dengan gejala nyeri, kesulitan menelan, pendarahan, dan tersedak.

    Annisa Malovery yang praktik di Rumah Sakit Hermina Grand Wisata Bekasi ini mengatakan, maksimal konsumsi kafein pada orang dewasa adalah 300-400 miligram sehari atau setara 3 sampai 4 cangkir ukuran 240 mililiter. Takaran konsumsi kopi ini tidak saklek karena mesti disesuaikan juga dengan kondisi tubuh peminumnya.

    Apabila peminum kopi punya penyakit maag, Annisa Malovery menyarankan sebaiknya hindari minum kopi. Atau jika memang ingin, selain takaran yang dikurangi, usahakan minum kopi setidaknya 1-2 jam setelah makan. Menurut Annisa ini dapat mengakali pengaruh tingkat keasaman kafein pada tubuh.

    Ilustrasi kopi. shutterstock.com

    Mengubah pilihan biji kopi yang dikonsumsi melalui cara menyangrainya juga dapat dilakukan. Pilih biji kopi dengan hasil sangrai dark roast dibanding yang light roast, karena tingkat keasamannya yang lebih rendah. Cara menyeduh kopi juga dapat berpengaruh pada tingginya asam atau kafein yang terkandung dalam secangkir kopi. Semakin lama kopi mengalami ekstraksi – waktu lamanya kopi bertemu dengan air - semakin tinggi asam yang dihasilkan.

    Espresso yang hanya menghabiskan waktu sekitar 20-30 detik untuk berekstraksi mengandung lebih sedikit kafein sekitar 64 miligram untuk 30 mililiter. Sedangkan kopi dengan metode seduh manual dengan metode tetes mengandung kafein sekitar 95 miligram untuk ukuran 240 mililiter kopi. Sementara kopi instan dengan ukuran yang sama mengandung 63 miligram kafein.

    SATRIA DEWI ANJASWARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.