Senin, 25 Juni 2018

Bisnis Karpet Handmade dari Tiga Sekawan Hobi Dekorasi

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Model dan motif karpet merek Rayya Home. Tabloidbintang

    Model dan motif karpet merek Rayya Home. Tabloidbintang

    TEMPO.CO, Jakarta - Hobi mendekorasi rumah membubat tiga sekawan, Erlina Anastasia, 39 tahun, Yuanita Dwiyana, 39 tahun, dan Venny Vernita, 40 tahun, menjajal bisnis karpet buatan tangan. Bisnis dengan label Rayya Home yang dijual secara daring kini punya banyak peminat dari seluruh wilayah Indonesia. Bahkan kini sudah ada tawaran kerja sama dari luar negeri.

    Erlina, Yuanita, dan Venny yang bersahabat sejak kuliah mendirikan Rayya Home pada Desember 2014. Mereka pertama kali memperkenalkan produknya lewat Instagram dalam bentuk keset dengan teknik hand-tufted, yang memadukan fungsi alat dan manusia. Dari situ pesanan mulai berdatangan. Semua produk bisa diubah dan dibuat sesuai keinginan pemesan.

    Tiga sekawan, Erlina Anastasia, Yuanita Dwiyana, dan Venny Vernita berbisnis karpet dengan merek Rayya Home. Tabloidbintang

    "Kami menyesuaikan jika konsumen memilih ukuran dan warna yang berbeda dari enam jenis ukuran standar," kata Erlina di Jakarta. Mereka memilih akrilik sebagai bahan pembuat karpet karena harganya lebih bersaing ketimbang bahan wol. "Dengan akrilik, tampilannya hampir sama dengan wol dan harganya lebih bersaing."

    Awam dalam bisnis karpet, ketiganya memiliki tantangan besar. Salah satunya, proses produksi yang memakan waktu lama diakali dengan sistem pra-pesan per 10 hari. "Jadi proses produksi dilakukan setiap tanggal 10, 20, dan 30 setiap bulan," ujar Yuanita.

    Dibantu lima perajin di Yogyakarta, mereka mulai berinovasi. Jika awalnya hanya memproduksi motif karpet yang dasar dan umum, kini ketiganya memberanikan diri menciptakan motif sendiri. Yuanita mengatakan, tak mudah membuat desain khas Rayya Home yang kini punya tiga tema.

    Model dan motif karpet merek Rayya Home. Tabloidbintang

    Penerimaan konsumen sampai komunikasi dengan perajin menjadi tantangan berkreasi dengan motif baru. Kuncinya, menyamakan persepsi dan menjaga konsistensi kerja para perajin. "Kami harus mengerti keterbatasan para perajin. Biasanya kami cari apa yang sudah pernah mereka buat dan mulai berkreasi dari sana," kata Yuanita yang bertugas sebagai bendahara Rayya Home ini.

    Karpet Rayya Home dibanderol mulai Rp 800 ribu. Harga yang cukup tinggi itu sempat dipertanyakan beberapa konsumen. "Kadang ada yang tanya mahal banget, sih. Ini karena proses pengerjaannya harus satu per satu serta butuh keterampilan dan ketelitian," kata Erlina.

    AURA


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pelatih Paling Mahal di Piala Dunia 2018

    Ini perkiraan jumlah gaji tahunan para pelatih tim yang lolos Piala Dunia 2018.