3 Hal yang Harus Diajarkan pada Anak Korban Bullying

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi persekusi, bullying. Shutterstock

    Ilustrasi persekusi, bullying. Shutterstock

    TEMPO.CO, Jakarta - Kita sering mendapati remaja usia sekolah, terutama SMP, mengalami tindakan tidak menyenangkan atau bullying. Bullying atau perisakan ini muncul karena adanya jiwa kompetitif yang menimbulkan rasa ingin lebih unggul dibanding teman-temannya dan adanya kesenjangan kekuatan antara korban dan pelaku.

    Baca: Psikolog Jelaskan 3 Faktor Remaja Lakukan Bullying

    Bullying menjadi masalah serius di kalangan anak-anak remaja karena memiliki dampak psikologis dan juga dapat membuat prestasi mereka di sekolah menurun. Pada jangka panjang, bully dapat mempengaruhi kualitas hidup pada masa dewasa,” kata Anna Lumintang, Marketing Manager PT Yupi Indo Jelly Gum.

    Menurut psikolog Yasinta Indrianti, banyak dampak yang bisa terjadi dari kasus perisakan, baik secara psikologis, mental, dan juga fisik. Anak dapat mengalami depresi, mengurung diri, dan menjadi tertutup. Di sisi lain, anak yang pernah menjadi korban perisakan bisa menjadi pelaku bullying nantinya.

    Baca juga: Dampak Bullying bagi Pelaku

    Yasinta, psikolog di EduPsycho Researce Institute, menuturkan terdapat tiga hal yang dapat diajarkan pada anak korban bullying, yaitu:

    1. Penerimaan pada anak
      Ketika orang tua mendengar anaknya mengalami tindakan tidak menyenangkan, ajarkan penerimaan pada anak. Penerimaan bukan berarti menerima tindakan bullying, melainkan menerima bahwa kondisi tersebut memang pernah terjadi. Ketika anak mulai menerima kondisinya, maka akan lebih mudah untuk diajari melakukan hal lain yang positif bagi dirinya.
    2. Pengakuan diri
      Ketika anak sudah melakukan penerimaan, ajari anak untuk melihat potensi dalam dirinya. Bisa saja apa yang selama ini menjadi bahan ejekan dari pelaku bullying menjadi senjata untuk menunjukkan jati diri dan kemampuan sang anak. Gali potensi dan ajari anak berperilaku positif. Ajak anak berpikir menyenangkan dalam mengatasi masalah ini.
    3. Berfokus pada potensi anak
      Berfokus pada perkembangan anak dapat membantu mengatasi masalah akibat tindakan bullying dan menjadi titik balik bagi anak. Berikan contoh dengan membimbing mereka untuk berfokus pada potensi dalam diri anak, seperti mengkomunikasikan tentang apa yang mereka inginkan atau menjadi kesukaan mereka.

      Artikel lain: Tip dari Ahli Agar Anak Kuat dan Terhindar dari Bullying

    DWI NUR SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.