Cara Ibas SBY dan Aliya Rajasa Berbagi Dua Adat Saat Nikah

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas (kiri) dan Siti Rubi Aliya Rajasa (kanan). ANTARA/Widodo S. Jusuf

    Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas (kiri) dan Siti Rubi Aliya Rajasa (kanan). ANTARA/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Pernikahan putra Presiden ke enam, Susilo Bambang Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas SBY dan putri mantan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Siti Rubi Aliya Rajasa atau Aliya berlangsung pada 24 November 2011. Rangkaian acara pernikahan mereka terdiri dari tiga bagian, yakni pengajian dan siraman pada Selasa 22 November, akad nikad pada Kamis 24 November, dan resepsi pada Sabtu 26 November 2011.

    Baca juga:
    Kahiyang Ayu - Bobby Nikah, Ada Harmoni Budaya Jawa dan Batak
    Kahiyang Ayu Putri Semata Wayang, Iriana Jokowi Teteskan Air Mata

    Pernikahan keduanya melibatkan dua kebudayaan yang berbeda, yaitu Jawa dan Sumatera. Adat Jawa sangat terasa pada siraman dan resepsi. Sementara adat Palembang mendominasi prosesi akad nikah.

    Dalam adat Jawa, siraman merupakan upacara di mana sejumlah orang yang dituakan memandikan calon pengantin agar menjadi suci. Sebelum siraman, oran gtua mempelai menjalani tradisi pemasangan bleketepe atau anyaman daun kelapa. Prosesi siraman yang menggunakan adat Jawa ini dan bernuansa biru ini didahului dengan pengajian.

    Saat resepsi pernikahan yang berlangsung di Jakarta Convention Center atau JCC, Aliya yang berdarah Palembang berubah menjadi putri keraton Yogyakarta dengan sentuhan perias Tinuk Rifky. Riasan paes ageng dipadu dengan kebaya merah berekor sekitar satu meter membuat alumnus Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung terlihat cantik dan elegan.

    Edhie Baskoro Yudhoyono dan Siti Rubi Aliya Rajasa berfoto bersama kedua orang tua pada resepsi pernikahan di Jakarta Convention Center, Jakarta (26/11). ANTARA/Puspa Perwitasari

    Melengkapi kecantikan Aliya, Ibas terlihat gagah menggunakan beskap merah. Pakaian pengantin maupun kebaya dan beskap yang dikenakan kedua keluarga inti dilengkapi dengan kristal dan payet emas. Kilaunya terpantul ketika tersorot cahaya.

    Adapun adat Palembang mendominasi prosesi akad nikah. Setelah prosesi akad nikah mereka menjalankan ritual batal wudu guna menyempurnakan peran Ibas sebagai suami Aliya. Kemudian dilanjutkan dengan Aliya yang menari tarian Pagar Pengantin. Aliya mulai menari saat Ibas dan Aliya duduk di pelaminan. Saat itu saudara kandung dan sepupu Aliya yang berjumlah delapan orang membawa Talam Kuningan menjemput pengantin wanita.

    Sambil berjalan ke depan, Ibas mengikuti Aliya dari belakang. Selama 10 menit Aliya menari, Ibas berdiri di sebelahnya. Aliya yang memakai baju kurung berwarna merah khas daerah Komering, Sumatera Selatan, terlihat sumringah dan tersenyum selama menari diiringi musik dan gending Sriwiyaja.

    Edhie Baskoro Yudhoyono (ketiga kiri) dan Siti Rubi Aliya Rajasa (ketiga kanan) bersama kedua orang tua masing-masing, Presiden SBY (kiri), Ibu Ani Yudhoyono, Hatta Rajasa dan Ibu Okke Hatta Rajasa. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    Tarian Pagar Pengantin ini melambangkan perpisahan pengantin perempuan dari masa remajanya dan tindakan-tindakannya tak bebas lagi. Sebab, dia sudah berada di lingkaran kehidupan rumah tangga yang direpresentasikan dengan dulang agung keemasan.

    Usai menari, acara dilanjutkan dengan sembah sujud atau sungkem. Ibas dan Aliya kembali mohon doa dan restu kepada orang tua dan kepada nenek mereka. Sebelum menari, sempat dilakukan acara suap-suapan, yaitu pemberian doa dan restu oleh para sesepuh yang wanita dari masing-masing mempelai.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berbagai Cara dalam Menekan Pelanggaran Batasan Bawaan Penumpang

    Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terus berupaya menekan pelanggaran batasan bawaan penumpang dari luar negeri di pintu masuk bandara.