Ayo Lebih Bijak Gunakan Media Sosial, Jangan Mudah Termakan Isu

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Paradoks Kebahagiaan di Media Sosial

    Paradoks Kebahagiaan di Media Sosial

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia adalah salah satu negara pengguna media sosial terbesar di dunia. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan pengguna Internet di Indonesia sudah mencapai 63 juta orang, dan 95 persen di antaranya menggunakan Internet untuk sosial media. Bahkan 33 juta masyarakat Indonesia aktif setiap hari di Facebook. Hal itu menunjukkan kedekatan kita dengan media sosial.

    Galang Kemajuan Ladies (GK Ladies) dibentuk sebagai salah satu organ di bawah koordinasi Galang Kemajuan Center dan bertujuan mengajak wanita Indonesia dengan keahlian masing-masing turun ke lapangan di bidangnya serta memberikan masukan kepada pemerintah.

    Baca: Tren Pacaran Haunting, Pasangan Hanya Memantau Media Sosial

    “Media sosial menjadi fenomena yang luar biasa di masyarakat serta pengaruh tersebut juga dapat menyebabkan hal positif dan negatif. Wanita menjadi titik sentral untuk fenomena ini dan bisa memanfaatkan sosial media untuk meningkatkan kesetaraan,” ujar Veve Safitri, ketua panitia Ngobrol Asyik (Ngobras) untuk GK Ladies di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Rabu, 1 November 2017.

    Bulan ini, Ngobras mengadakan diskusi dengan topik “Perempuan, Budaya, dan Sosmed” untuk meningkatkan penggunaan media sosial yang lebih bijak. Kecanggihan teknologi dan kemudahan penggunaan Internet dapat mendatangkan dampak positif dan negatif di masyarakat. Semakin meningkatnya perkembangan teknologi ini, wanita, terutama ibu-ibu, memiliki peran besar untuk menghindari dampak negatif media sosial terhadap anak-anak.

    Baca juga: Candu Media Sosial Lebih Buruk dari Alkohol dan Rokok

    “Ada 10 persen orang yang aktif memberi informasi dan 90 persen yang ikut menyebarkan informasi tersebut. Terkadang, tidak tahu apa-apa, tapi disebarkan. Jadi sekarang saya mendorong 10 persen harus diubah ke informasi positif mulai dari GK Ladies ini,” ujar R. Niken Widiastuti, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika.

    Dalam diskusi ini, para wanita didorong untuk mulai mengikuti cara AISAS sebelum menyebarkan informasi di media sosial. AISAS adalah singkatan dari attention, interest, search, action, dan share, yang berarti perhatian, minat, pencarian, tindakan, dan berbagi. Sekarang, banyak masyarakat yang menunjukkan perhatian terhadap suatu isu dan langsung membagikannya sebelum diverifikasi lebih dulu.

    Acara ini juga mendorong para ibu lebih waspada terhadap media sosial yang digunakan anaknya. “Anak kita itu kan suka ingin tahu. Kaum muda itu belajar radikalisme dari Internet, kan bisa bahaya kalau otaknya sudah tercuci,” kata Niken.

    Artikel terkait: Instagram Memicu Kecemasan dan Pencitraan Tubuh

    Niken menjelaskan, media sosial bisa digunakan untuk hal positif, tapi akhir-akhir ini sering digunakan untuk hal negatif. Bijak menggunakan media sosial merupakan sikap yang harus terus dikembangkan dan menjadi kebiasaan para penggunanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Memilih Status PSBB, Sejumlah Negara Memutuskan Lockdown

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi memutuskan PSBB. Hal itu berbeda dengan sejumlah negara yang telah menetapkan status lockdown atau karantina wilayah.