Kesemutan dan Bicara Tak Nyambung, Awas Gejala Stroke

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kesemutan. Shutterstock.com

    Ilustrasi kesemutan. Shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), Profesor Dr dr Mohamad Hasan Machfoed SpS(K) MS, mengimbau agar masyarakat mewaspadai kondisi tubuh ketika terasa lumpuh selama beberapa saat yang bisa mengarah pada serangan stroke.

    "Serangan stroke selintas itu disebut Transient Ischemic Attack (TIA), terjadi karena pembuluh darah menutup sementara. Itu bahaya, merupakan tanda dini terjadi stroke," kata Hasan. Baca: Cegah Stroke dengan Rajin Cek Tekanan Darah dan Tidak Stres

    Pembuluh darah yang tersumbat sesaat menyebabkan aliran darah ke otak melambat atau terhenti sehingga mengakibatkan gejala gangguan saraf sesaat seperti yang dialami oleh penderita stroke.

    Umumnya serangan stroke selintas terjadi selama 30 menit hingga dua jam dan kemudian penderitanya kembali normal. Serangan selintas itu menyebabkan kebas atau tak merasakan sebagian tubuh, gerak tubuh melemah tiba-tiba, kesemutan, dan berbicara tidak nyambung, atau kata-katanya tidak terstruktur.

    "Orang yang terkena stroke iskemik, biasanya didahului TIA," kata Hasan. Baca juga: Stroke Lebih Rentan Terjadi pada Perempuan, Berikut Alasannya

    Namun demikian, kebanyakan masyarakat tidak memahami kondisi lumpuh sesaat itu merupakan gejala dini terjadinya serangan stroke di kemudian hari.

    Penyakit stroke merupakan penyakit yang menyebabkan kematian terbanyak di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan pada 2013 menyebutkan prevalensi stroke di Indonesia sebanyak 12,1 per 1.000 orang.

    Dia menyebutkan, stroke disebabkan empat faktor, yakni fisik, mental, sosial, dan spiritual. Dia mengingatkan agar masyarakat menjaga pola makan dan pola hidup sehat dengan menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, yakni melakukan aktivitas fisik, perbanyak makan buah dan sayuran.

    "Hidup sehat, olahraga, cegah kegemukan, tidak konsumsi alkohol, tidak merokok, kalau ada diabetes kontrol diabetnya, kontrol lemak," katanya. Artikel terkait: Dengarkan Denyut Nadimu untuk Deteksi Stroke Sejak Dini

    Sejumlah faktor risiko dari segi fisik yang sebenarnya bisa dicegah ialah merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan buruk, konsumsi alkohol, kadar kolesterol tinggi, narkotika, obesitas, terapi pengganti hormon, hipertensi, gangguan irama jantung, penyakit jantung lainnya, diabetes, dan migrain.

    "Hipertensi yang paling jahat dari faktor yang lain, terutama hipertensi primer yang tidak ada sebabnya, 90 persen dari hipertensi yang ada," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.