Anak Merengek Minta Mainan Mahal, Coba Cek Kelakuan Orang Tuanya

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anak di toko mainan. walesonline.co.uk

    Ilustrasi anak di toko mainan. walesonline.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak orang tua, khususnya ibu, mengeluhkan kebiasaan anaknya yang meminta mainan mahal. Permintaan ini tentu menyedot anggaran rumah tangga, bahkan menimbulkan drama, terutama bila keinginan anak membeli mainan mahal ditolak.

    Baca juga:
    Pilih Mainan Anak, Hindari yang Berbahaya buat Mata
    Permainan Tradisional Ajarkan Gotong Royong dan Melatih Fisik

    Pertanyaannya, benarkah anak selalu ingin mainan mahal? Psikolog anak Ayoe Sutomo mengatakan tidak ada anak yang menginginkan mainan mahal, kecuali jika orang tua mengajarkan demikian.

    "Anak - anak itu sebetulnya dikasih mainan apa saja mau, kok. Apalagi ketika mereka masih sangat kecil," kata Ayoe Sutomo saat ditemui di British Council, Lotte Avenue.

    Ayoe Sutomo mengajak orang tua mengingat kembali tentang siapa yang pertama kali memberikan mainan mahal kepada anak. Ketika anak masih bayi, belum paham apa - apa, bukankah orang tua sendiri yang mengenalkan mainan mahal kepada anak?

    Ilustrasi anak-anak dan mainan. Shutterstock.com

    Barulah ketika anak sudah lebih besar, sudah bisa memilih sendiri mainannya, anak akan memilih mainan yang selama ini sudah dikenalkan orang tua mereka. Jika orang tua terbiasa membelikan mainan mahal, maka anak akan lebih suka mainan mahal. "Setelah begini baru orang tua mengeluhkan kebiasaan anak," ucap Ayoe Sutomo.

    Ayoe Sutomo mengakui butuh usaha ekstra ketika orang tua memutuskan tidak membeli mainan mahal untuk anak. Orang tua harus lebih kreatif dan menyediakan waktu buat anak.

    "Misalnya di hari libur akhir pekan, jangan mengajak ke mal terus membelikan mainan (yang relatif mahal) untuk anak. Ibu bisa mengajak anak main masak - masakan atau rumah - rumahan, dan permainan lain yang tidak mengeluarkan uang," ujar Ayoe Utomo.

    AURA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mereka Boleh Tetap Bekerja Saat DKI Jakarta Berstatus PSBB

    PSBB di Jakarta dilaksanakan selama empatbelas hari dan dapat diperpanjang. Meski demikian, ada juga beberapa bidang yang mendapat pengecualian.