Misteri Sindrom Sleeping Beauty, Kenapa Banyak Menyerang Remaja

Reporter

Ilustrasi tidur lelap. Shutterstok

TEMPO.CO, Jakarta - Kleine Levin Syndrome (KLS) disebut juga sindrom Sleeping Beauty atau Putri Tidur seperti di dongeng. Penderitanya tidur sangat lama, mencapai 20 jam sehari atau bahkan berhari-hari. Baca: Gadis di Banjarmasin Kena Sindrom Sleeping Beauty, Bukan Dongeng

KLS diklasifikasikan sebagai hipersomnia periodik walaupun sebenarnya menunjukkan berbagai macam karakteristik klinis diluar insomnia. Siapa saja yang rentan terkena sindrom Sleeping Beauty?

Berdasarkan analisis epidemiologi dan patologi pada 2012 yang dilakukan tim dokter dari rumah sakit Universitaire Pitié Salpêtrièr, Prancis, KLS umumnya menimpa remaja. Ciri yang muncul pada penderita KLS adalah kambuhnya episode hipersomnia akut yang disertai gangguan kognitif, apati, derealisasi, serta gangguan perilaku dan kejiwaan.

Sindrom Sleeping Beauty dilaporkan telah terjadi di beberapa wilayah di dunia, seperti Eropa, Timur Tengah, Amerika, Asia, Australia, dan Afrika. Prevalansi tertinggi terjadi di Israel dan kaum Yahudi-Amerika, mengindikasikan adanya efek pendiri (founder effect) pada populasi ini.

Sebanyak 68-87 persen kasus KLS terjadi pada pria. Sebagian besar pasien mengalaminya pada masa pubertas, namun beberapa kasus pada anak-anak di atas umur 9 tahun dan pada orang dewasa tercatat terjadi di atas umur 35 tahun. Baca juga: Sindrom Sleeping Beauty, Adakah Obatnya

Meski presentase pria diketahui lebih tinggi terkena sindrom Sleeping Beauty, perempuan justru tercatat mempunyai risiko yang lebih lama terjangkit. Pada lebih dari 50 persen kasus yang dimulai pada usia 12 tahun atau lebih dari 20 tahun, sindrom ini baru bisa hilang setelah lebih dari 25 tahun.

Umumnya KLS menghilang dengan sendirinya pada pasien remaja setelah mereka melewati usia 30 tahun. Masih belum ada penjelasan ilmiah mengenai mengapa penyakit ini banyak menyerang remaja, bersifat episodik, dan menghilang dengan sendirinya saat beranjak dewasa.

Dari 108 pasien dengan KLS, ditemukan 25 persen pernah mengalami kesulitan pada saat kelahiran, seperti persalinan yang panjang, hipoksia (lahir kekurangan oksigen), prematur, atau kelahiran yang tertunda, serta 15 persen mempunyai sejarah terlambat tumbuh kembang. Artikel terkait: Gejala Sindrom Sleeping Beauty, Antipati Sampai Hiperseks

Salah satu atau kedua kondisi tersebut ditemukan pada 34 persen pasien. Kemungkinan kelainan genetik yang spesifik maupun yang tidak juga sering ditemukan pada pasien sindrom Sleeping Beauty.

SATRIA DEWI ANJASWARI | KLS STEALING TIME | SOUND SLEEP HEALTH






Ada yang Unik dari Sindrom Putri Tidur, Simak Kata Dokter

28 Oktober 2017

Ada yang Unik dari Sindrom Putri Tidur, Simak Kata Dokter

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan seorang remaja asal Banjarmasin bernama Siti Raisa Miranda (13) yang tidur selama lebih dari dua minggu.


Sindrom Sleeping Beauty Ternyata Dipicu Gigitan Lalat Ini

26 Oktober 2017

Sindrom Sleeping Beauty Ternyata Dipicu Gigitan Lalat Ini

Lalat ini dapat menularkan parasit yang menginfeksi sistem saraf pusat manusia dan memicu sindrom sleeping beauty.


Dampak Sindrom Sleeping Beauty, Hidup Suram dan Gangguan Jiwa

24 Oktober 2017

Dampak Sindrom Sleeping Beauty, Hidup Suram dan Gangguan Jiwa

Hidup penderita Sindrom Sleeping Beauty cenderung suram dan jiwanya pun terganggu.


Gejala Sindrom Sleeping Beauty, Antipati Sampai Hiperseks

24 Oktober 2017

Gejala Sindrom Sleeping Beauty, Antipati Sampai Hiperseks

Belum jelas apa penyebab sindrom Sleeping Beauty, tapi ada gejala yang kasat mata.


Sindrom Sleeping Beauty, Adakah Obatnya

24 Oktober 2017

Sindrom Sleeping Beauty, Adakah Obatnya

Penderita sindrom Sleeping Beauty membutuhkan pendampingan sepanjang hari dalam setiap jangka waktu tidur yang panjang.


Gadis di Banjarmasin Kena Sindrom Sleeping Beauty, Bukan Dongeng

24 Oktober 2017

Gadis di Banjarmasin Kena Sindrom Sleeping Beauty, Bukan Dongeng

Sindrom Sleeping Beauty dikenal dengan nama penyakit Kleine-Levin Syndrome atau KLS.