Senin, 25 Juni 2018

Harapan Hidup Pasien Kanker Paru Kian Panjang dengan Metode Baru

Reporter:
Editor:

Yayuk Widiyarti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kanker Paru-paru Kerap Terlambat Ditangani

    Kanker Paru-paru Kerap Terlambat Ditangani

    TEMPO.CO, Jakarta - Para ahli pengobatan kanker kini tengah menggodok metode pengobatan yang bermanfaat untuk memperpanjang kesempatan hidup pasien, terutama pasien kanker paru. Spesialis patologi anatomi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Evalina Suzana, mengatakan salah satu metode pengobatan yang tengah berkembang saat ini adalah imunoterapi.

    Metode ini memanfaatkan kemampuan sel imun untuk mengenali sel kanker. Terapi ini pertama kali disetujui untuk menjadi pengobatan kanker prostat pada 2010, sementara pada pertengahan 2016, Food and Drug Administrastion Amerika Serikat (FDA) memberikan lisensi kepada penghambat PD-1 (program death-1) dan PD-L1 (program death-Ligand1).

    Di Indonesia, terapi ini dikenal dengan pembrolizumab. Terapi ini dapat mengaktifkan kembali sel imun sehingga dapat mengenali dan menghancurkan sel-sel kanker.

    Salah satu yang paling mutakhir, pengobatan ini dimanfaatkan untuk pasien kanker paru, jenis kanker yang dianggap memiliki harapan hidup paling rendah, yakni 30 persen harapan hidup dalam satu tahun.

    Namun, tak bisa sembarang pasien bisa mendapatkan terapi ini. Sebelum diberi imunoterapi, pasien harus menjalani pemeriksaan biomarker PD-L1. Jika PD-L1 terbukti positif, maka sel kanker akan merespon dengan baik pengobatan pembrolizumab.

    “Hasil penelitian menunjukkan, lebih dari 50 persen pasien kanker paru yang diberikan pembrolizumab memiliki harapan hidup lebih panjang. Untuk itu saat ini, pemeriksaan PD-L1 sudah menjadi standar diagnostik untuk kanker paru,” ujarnya.

    Kendati teruji dapat memperpanjang harapan hidup pasien dibanding kemoterapi, yang paling penting dalam terapi ini adalah meningkatkan kualitas hidup pasien.

    “Jika ditemukan pasien kanker paru, maka periksalah jenis sel kankernya. Jika jenis sel kanker paru bukan sel kecil, maka segera lakukan tes PD-L1,” tuturnya.

    Hingga saat ini, pengobatan untuk pasien kanker paru masih dalam tahap uji klinis di luar negeri. Jika protokol internasional sudah keluar, maka Indonesia bisa segera melakukan uji klinis.

    Sebagai kelanjutan standar tes diagnostik PD-L1, saat ini sedang berlangsung pelatihan di 14 pusat patologi anatomi di rumah sakit kelas A (tersier) di seluruh Indonesia. “Diharapkan dalam sebulan sampai dua bulan ini rumah sakit tersebut sudah bisa melakukan tes PD-L1,” ujar Evalina.

    Artikel terkait:
    Pembrolizumab, Terobosan Terbaru Atasi Kanker Paru
    Tak Hanya Rokok, Ini Penyebab Lain Kanker Paru
    Cegah Kanker Paru, Kenali Gejalanya 


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Pelatih Paling Mahal di Piala Dunia 2018

    Ini perkiraan jumlah gaji tahunan para pelatih tim yang lolos Piala Dunia 2018.