Riset: Belajar Bahasa Asing Bermanfaat bagi Kesehatan

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi lansia. Mirror.co.uk

    Ilustrasi lansia. Mirror.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta - Belajar bahasa asing diyakini mampu menjaga kesehatan otak dan memperlambat munculnya penyakit demensia. Selain bermanfaat buat kesehatan, mempelajari bahasa asing tentu membuat orang yang bersangkutan memiliki keahlian lebih.

    Baca juga:
    Masih Muda Sudah Pikun, Kok Bisa?
    Benarkah Melajang Bisa Memicu Demensia?

    Cara Membedakan Lupa Biasa dengan Lupa Demensia

    Berdasarkan penelitian ahli saraf, Dr Thomas Bak dari University of Edinburg, Skotlandia, terhadap 600 pasien stroke, sebanyak 40,5 persen pasien memiliki fungsi mental yang normal pascastroke dibandingkan dengan 19,6 persen pasien yang hanya menguasai satu bahasa. Dengan kata lain, para bilingual atau mereka yang menguasai dua bahasa atau lebih memiliki peluang lebih mudah pulih dari stroke.

    Ilustrasi demensia. REUTERS

    Thomas Bak mengatakan gejala pertama demensia umumnya muncul pada usia 71 tahun. Namun, gejala baru muncul di umur 75 tahun pada mereka yang menguasai lebih dari satu bahasa.

    Usia juga tidak menjadi halangan untuk mempelajari bahasa baru. Bahkan Thomas Bak menyarankan untuk belajar bahasa ketika dewasa. "Orang beranggapan jika Anda tidak mempelajari bahasa sedini mungkin, maka tak mungkin menguasainya. Tapi dari sisi kesehatannya, justru lebih baik sebaliknya," kata dia.

    Agar lancar berbahasa baru, Thomas Bak menganjurkan belajar bahasa selama 5 jam dalam seminggu. Sama seperti latihan fisik, kuncinya adalah konsisten.

    TABLOIDBINTANG


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Animal Crossing dan 9 Aplikasi Makin Dicari Saat Wabah Covid-19

    Situs Glimpse melansir peningkatan minat terkait aplikasi selama wabah Covid-19. Salah satu peningkatan pesat terjadi pada pencarian Animal Crossing.