Kisah Lady Biker Moge, yang Lucu Sampai Tegang Hampir ke Jurang

Reporter:
Editor:

Rini Kustiani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksesoris unik yang di gunakan Lady Biker Harley Davidson Club Indonesia Tangerang, saat bersiap-siap menunggangi motor keluaran pabrik Amerika miliknya di depan Sunbreeze Hotel, Jakarta, 17 September 2017. TEMPO/Ilham Fikri

    Aksesoris unik yang di gunakan Lady Biker Harley Davidson Club Indonesia Tangerang, saat bersiap-siap menunggangi motor keluaran pabrik Amerika miliknya di depan Sunbreeze Hotel, Jakarta, 17 September 2017. TEMPO/Ilham Fikri

    TEMPO.CO, Jakarta - Dunia motor gede atau moge tak hanya didominasi oleh kaum Adam. Para perempuan juga sudah masuk ke ranah ini dan mahir mengendarai sepeda motor bermesin 600 cc ke atas itu.

    Baca:
    Lady Biker Moge Punya Obat Ganteng dan Atribut Wajib

    Jika dikelompokkan, ada dua tipe perempuan pengendara moge, yakni yang gemar touring dan yang berkendara hanya di dalam kota dan sekitarnya. Untuk kategori lady biker touring, ada Briza Sunarto dan Olie Meutia misalnya yang tergabung dalam Harley Davidson Club Indonesia Tangerang. Briza dan Olie pernah touring ke Bali dan sejumlah negara di luar negeri. Adapun lady biker yang memilih melajukan mogenya di Jakarta dan sekitarnya adalah Tike Larasati.

    “Kalau touring pasti capek karena harus berkendara selama berjam-jam, jadi saya pakai (moge) untuk bekerja saja,” ujar Larasati yang berprofesi sebagai pengacara ini kepada Tempo. Lagipula, dia melanjutkan, tipe sepeda motor Harley Davidson Sportster Iron 883 miliknya tidak memiliki tangki yang cukup besar untuk menempuh perjalanan jauh. Harley Davidson Sportster Iron 883 memiliki tangki bensin berkapasitas 18,9 liter. Jika dipaksakan untuk perjalanan jauh, tentu pengendaranya mesti sering berhenti untuk mengisi bensin.

    “Saya pakai sepeda motor ini untuk meeting di kantor dan dari hotel ke hotel,” katanya. Yang menarik jika mengendarai moge, Larasati tak perlu repot mencari tempat parkir karena sebagian besar perkantoran dan hotel di Ibu Kota memberikan titik parkir di depan pintu masuk khusus untuk sepeda motor bertenaga jumbo.

    Namun sebagaimana pengendara lainnya, Larasati mengatakan tantangan terbesarnya saat  mengendalikan moge adalah sepeda motor dengan kapasitas mesin kecil yang ngebut. “Aku takut sekali sama mereka. Bukan takut sepeda motorku rusak, tapi khawatir pengendara sepeda motor kecil itu celaka,” ujarnya. “Dengan segala hormat, mereka lupa kalau mereka nyawanya juga cuma satu dan mereka kendaraannya kecil.”

    Lady Biker Harley Davidson Club Indonesia Tangerang,Dina Maria (kiri), Olie Meutia, Briza Meilani, Lararasati, Sedang mengendarai motor Harley Davidson di Rukan Permata Senayan, Jakarta. TEMPO/Ilham Fikri

    Briza Sunarto menambahkan masyarakat kerap menganggap pengendara moge itu berlagak, sok pamer, dan berbagai penilaian negatif lainnya. Padahal, dia melanjutkan, mengendarai sepeda motor bertenaga besar, berat, dan panas, justru berpotensi membahayakan orang lain. “Kalau sampai menabrak, pengendara moge-nya tidak apa-apa, tapi yang tertabrak yang lebih berbahaya,” ujarnya. “Moge itu ngeremnya Senin berhentinya Kamis.”

    Jika Larasati memilih menjadi mengendarai moge di Jakarta dan sekitarnya, Olie justru mengalami pengalaman yang tak mengenakkan ketika berkendara di dalam kota dengan sepeda motor jumbo. “Giliran touring aman-aman saja, tapi waktu city ride malah terluka,” ujar perempuan 31 tahun ini.

    Olie mengalami kecelakaan saat berkendara di kawasan Serpong, Tangerang, pada 2013. Saat kondisi hujan, Olie terpaksa mengerem mendadak untuk menghindari angkot yang tiba-tiba berhenti di tikungan. Namun ban belakang goyang karena jalanan licin dan ada sebagian jalan yang berpasir. “Sudah enggak terpikir teori macam-macam lalu aku melepaskan kendali dari sepeda motor. Tapi sepatu boot-ku tersangkut di swingarm, jadi badan terseret sepeda motor,” ujarnya. “Kalau dibayangkan, seperti superman tapi kaki yang di depan.”

    Saat itu Olie mengalami luka cukup parah. Bagian siku, lutut kenan, dan dada terluka. “Baju sudah sobek-sobek enggak karuan dan berdarah-darah. Untungnya aku pakai rompi kulit, jadi masih selamat aset bagian dada,” katanya sambil tertawa. Kejadian itu membuat Olie trauma, tapi dia mengaku tidak kapok mengendarai moge. “Saya trauma di belokan. Jadi kalau bertemu tikungan, yang lain silakan jalan duluan, saya pelan-pelan belakangan,” katanya.

    Lady Biker Harley Davidson Club Indonesia Tangerang, sedang mengendarai motor Harley Davidson di Rukan Permata Senayan, Jakarta,17 September 2017. TEMPO/Ilham Fikri

    Pengalaman yang menegangkan juga pernah dialami Olie saat touring ke Bali dan ketika melintas di Aceh. Di Pulau Dewata itu, pengemudi moge paling takut dengan anjing karena binatang itu ‘penasaran’ dengan deru kendaraan yang cukup keras sehingga berusaha mengejar. “Kalau di Aceh, takutnya sama sapi,” ujarnya.

    Saat mengkuti acara di Garuda Wisnu Kencana di Bali, Olie melihat sebuah sepeda motor Harley Davidson Ultra terguling beberapa kali dan baru berhenti saat terjerembab di selokan. Hanya satu penyebab kecelakaan itu, pengemudi moge menghindari anjing yang mulai mendekat. “Dari kaca spion aku melihat seperti film action, bikin shock juga,” katanya.

    Kisah menegangkan juga pernah terjadi pada Briza Sunarto ketika touring di Milwawkee, Wisconsin, Amerika Serikat, markas Harley Davidson. Dia menyewa sepeda motor di sana dan melakukan perjalanan ke beberapa kota. “Di sana kondisi jalanannya lengang, lurus, dan mulus,” katanya. “Di kanan kiri yang ada hanya sapi dan kuda yang enggak suka mengejar Harley.”

    Jadwal touring yang padat dan kondisi jalanan mulus membuat Briza melampiaskan lelah di jalan. Dia mengantuk saat berkendara. “Di sana touring itu gila-gilaan. Tiba di hotel subuh lalu jam 9 pagi berangkat lagi. Jadi istirahat hanya sekitar 3 jam, sementara saya bukan orang yang gampang tidur,” ujarnya. “Gara-gara itu, saya nyetir sambil merem.”

    Sampai pada satu titik menjelang persimpangan jalan, suami Briza yang berkendara persis di belakangnya membunyikan klakson berulang kali dan memanggil namanya. “Saya langsung sadar dan saat membuka mata, di depan itu jurang. Kalau enggak dibangunkan mungkin saya sudah wassalam,” ucapnya.

    Belajar dari situ, Briza kini pilih-pilih jika diajak touring. “Kalau terlalu lama dan dikejar waktu jadi tidak menikmati suasana dan tak bisa melihat tempat-tempat yang bagus,” katanya. Sebab, kondisi tubuh yang prima merupakan syarat utama berkendara.

    Lady Biker Harley Davidson Club Indonesia Tangerang, Olie Meutia Berpose diatas Motor Harley Davidson di Rukan Permata Senayan, Jakarta. TEMPO/Ilham Fikri

    Selain kejadian yang menagangkan, ada juga pengalaman lucu ketika para lady biker ini touring. Saat hujan dan kebelet pipis dalam perjalanan misalnya, ada di antara mereka yang memilih ngompol ketimbang keluar dari rombongan dan berhenti untuk pergi ke toilet. Hujan membuat semua baju basah, sehingga tak ketahuan kalau orang tersebut buang air kecil di celana.

    Biasanya, ladies biker yang ikut touring juga lebih cuek ketimbang pengemudi moge pria. “Aku sampai tidur-tiduran di pompa bensin sementara yang cowok-cowok isi bensin,” kata Olie. Ladies biker juga mendapat prioritas karena berada di belakang road captain selama perjalanan sehingga selalu terpantau dan tidak tertinggal rombongan. Ketika touring juga didampingi petugas medis dan mekanik.

    Ketika sampai di tempat tujuan atau mampir di hotel untuk beristirahat sejenak, para lady biker biasanya melakukan pijat untuk menghilangkan lelah. “Sampai hotel, keringat sudah hilang, setelah itu massage dari layanan hotel atau memanggil tukang pijat dari penduduk sekitar,” ujar Olie yang pernah touring hingga Thailand, ini.

    Jangan bayangkan pijat yang dijalani selalu membuat rileks. Olie pernah mengalami alergi karena tak cocok dengan minyak pijit sehingga kulitnya bentol-bentol. Adapun Briza pernah mengalami pijatan yang amat keras meski sudah berusaha meminta pemijatnya agar mengurangi tekanan. “Pijatnya terlalu kencang malah terasa seperti habis digebukin,” katanya.

    RINI KUSTIANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.